Azwar Anas: Batu Lompatan Agar Bisa Go Nasional

POTENSI seni dan budaya di Kota Payakumbuh sebenarnya sangat spesifik. Namun karena kurang promosi, potensi besar itu belum bisa termanfaatkan secara maksimal. “Makanya, acara ini harus dijadikan batu lompatan untuk Payakumbuh bisa go nasional dan internasional,” ujar mantan Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas Datuk Rajo Sulaiman dan Wakil Ketua Ikatan Pelestari Seni Budaya Indonesia (IPSBI) Hari Ichlas Majo Lelo Sati, ketika menghadiri pembukaan Pekan Promosi Seni dan Dagang Payakumbuh di Medan Nan Bapaneh Ngalau Indah, Rabu (21/5).

Pekan Promosi Seni dan Dagang Payakumbuh yang dibuka Wali Kota Josrizal Zain tersebut, digelar Dinas Pariwisata Seni dan Budaya bekerja sama dengan Ikatan Pelestari Seni Budaya Indonesia (IPSBI) dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional dan seabad kebangkitan nasional.

Turut hadir dalam acara pembukaan, pengusaha nasional Randi Indra Syahdan, Ketua DPRD Payakumbuh Jendrial, Ketua LKAAM Indra Zahur Datuk Rajo Simarajo, Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Payakumbuh Yoherman, dan sejumlah pejabat penting lainnya.

Sedangkan Hari Ichlas Majo Lelo Sati dalam sambutannya mengatakan, Sumatra Barat khususnya Payakumbuh memang memiliki aneka seni dan budaya yang unik, spesifik serta dinamis.

“Keunikan, kekhasan dan dinamika warga Sumatra Barat atau Minangkabau itu tercermin jelas melalui kesepakatan sosial yang biasa kita semboyankan dengan kalimat adat basyandi syarak, syarak basyandi kitabullah,” kata Hari Ichlas Majo Lelo Sati.

Cicit Tuanku Imam Bonjol itu menambahkan, persepakatan sosial yang berasal dari kekayaan budaya matrilineal dan bersandar pada agama Islam tersebut, kemudian juga terefleksi dalam produk budaya yang memperlihatkan nilai-nilai kebersamaan.

“Dari produk seni budaya, bisa ditelusuri pandangan hidup, struktur masyarakat, nilai-nilai dan norma yang dianut, serta simbol-simbol filosofisnya,” sebut Hari Ichlas Majo Lelo Sati.

Tentang Pekan Promosi Seni dan Dagang Payakumbuh, Hari Ichlas menyebutkan, Payakumbuh yang terkenal dengan julukan ainyo janiah ikannyo jinak, harus dapat memanfaatkan momen ini sebagai ajang membangkitkan wisata berbasis budaya.

Sedangkan Josrizal Zain mengatakan, arus cepat globalisasi dan modernisasi, telah membawa perubahan dan nilai-nilai baru di tengah masyarakat. Akibatnya, terjadilah pemujaan terhadap segala bentuk dan produk budaya barat.

“Sehingga nilai-nilai seni, budaya, dan kearifan lokal mulai tergerus. Karena itulah Pemko bekerja sama dengan IPSBI menggelar pekan promosi seni dan dagang, dengan harapan dapat dijadikan wadah membangkit wisata berbasis budaya,” jelas Josrizal Zain. (*)