SIARAN PERS Tim Advokasi Kasus Universitas Nasional

Kami sangat mengutuk aksi penyerbuan brutal dan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh polisi terhadap civitas akademika Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Brutalitas polisi menyerbu kampus merupakan wujud paling nyata bahwa tak ada perubahan watak negara dan aparatusnya dalam menyikapi kebebasan berpendapat dan berekspresi selain dengan kekerasan dan senjata.

Negara dan aparatusnya seperti polisi telah mengubur amanat reformasi yang mengedepankan demokrasi. Sekaligus membuktikan bahwa tidak ada yang namanya reformasi Polri.
Kekerasan bersenjata yang dilakukan oleh polisi di kampus Unas
merupakan akibat dari kebijakan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
yang menyengsarakan rakyat berupa kenaikan harga bahan bakar minyak
sebesar 28,7% pada 24 Mei 2008. Dengan kebijakannya yang sangat tidak
cerdas itu, SBY telah langsung maupun tidak langsung memicu pergolakan
sosial di masyarakat.
Atas nama apa pun menyerbu mahasiswa yang tak bersenjata,
mengobrak-abrik kampus dan fasilitasnya, memukuli mahasiswa, dan
sebagainya adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan harus
diselesaikan secara hukum.  Kekerasan yang menimpa mahasiswa Unas
merupakan bagian dari kejahatan negara melalui instrumen kepolisian
untuk menindas warga negara.
Kami menolak semua isu, wacana, dan informasi yang dibesar-besarkan
dihembuskan untuk mengalihkan persoalan brutalitas polisi terhadap
mahasiswa Unas dan kebijakan menaikkan harga BBM yang menyusahkan
rakyat. Kami meminta kepada masyarakat untuk tidak terpancing isu dan
wacana yang tidak bertanggung jawab itu, seperti isu narkoba.

Sebaliknya kami meminta semua pihak untuk mengawal pengusutan kasus penyerbuan polisi ke kampus Unas yang saat ini juga sedang ditangani oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Mengalihkan isu dari persoalan pokok adalah kejahatan.
Kepala Polri Jenderal Polisi Sutanto harus menegakkan prinsip dan
etika profesi kepolisian. Penyerbuan yang diikuti dengan pemukulan,
perusakan, penghasutan, oleh polisi merupakan tindakan yang tidak
mencerminkan fungsi polisi profesional sebagai pelindung dan pengayom
masyarakat. Kami meminta Kapolri menindak tegas polisi yang brutal dan
tidak profesional.
Kami meminta negara secara konsisten menjamin kebebasan berpendapat
dan berekspresi warga negaranya. Kebebasan itu dijamin oleh UUD 1945
dan sangat penting untuk mengontrol kebijakan pemerintah saat ini yang
sebagian besar menyusahkan rakyat.

Jakarta, 25 Mei 2008

Contact person:

Agustinus Edy Kristianto (085691614625)



KRONOLOGI AKSI TOLAK KENAIKAN HARGA BBM

23 – 24 MEI 2008

Lokasi  : Kampus UNAS

Pukul

Kejadian

Keterangan

21.00

Sejumlah mahasiswa UNAS memulai Unjuk rasa di halaman kampus UNAS (Taman kotak- Samping gedung Blok I)

Bentuk aksi hanya orasi dan menyalakan lilin

21.40

Masa aksi bergerak ke depan kampus UNAS

22.00

Masa aksi bergerak menuju pertigaan jalan kampus UNAS, dan berorasi

Di pertigaan sudah ada sekitar 5 mobil patroli polisi.

22.35

Masa aksi kembali ke depan kampus UNAS

Di ikuti polisi

22.45

Masa aksi membakar ban di depan kampus

Polisi mulai merapat dan jumlahnya bertambah

22.50

Terjadi keributan dengan polisi. Masa aksi di bantu warga sekitar memukul mundur polisi sampai ke pertigaan jalan kampus UNAS.

Polisi bertahan di pertigaan dan halte.

23.52

Beberapa warga bernegosiasi meminta polisi membubarkan diri dan mahasiswa UNAS untuk masuk ke dalam kampus

05.25

Polisi menyerang kampus dengan atribut lengkap dan melepaskan tembakan dan gas air mata kedalam kampus. Sedangkan mahasiswa bertahan di dalam kampus dan melakukan perlawanan dengan melemparkan batu, botol, dan apapun yang ada di sekitar mereka.

Tidak ada satupun mahasiswa yang menggunakan senjata tajam.

06.02

Polisi mendapat komando untuk masuk kedalam kampus UNAS. Dan mulai mendobrak pagar kampus.

Ada dua komando berbeda. Yang di depan tembok UNAS mengomandokan untuk tidak masuk kedalam kampus, sedangkan yang di depan pagar kampus menyuruh polisi untuk masuk kedalam kampus.

06.23

Polisi menangkap seorang mahasiswa yang sudah mengalami luka robek dan bocor di kepala. Kemudian polisi memukuli beberapa satpam UNAS dan juga memukul wartawan yang sedang meliput.

Polisi sudah ada di dalam kampus

06.37

Masa aksi melakukan aksi duduk diam di lapangan UNAS tanda aksi sudah selesai namun sayangnya polisi memukuli para mahasiswa dan menelanjangi mereka, serta mengambil barang – barang milik mahasiswa

07.03

Semua mahasiswa di bawa ke dalam mobil tahanan

Banyak mahasiswa yang hanya tidur di sekretariat mahasiswa dan yang sedang bersiap untuk acara Wisuda ikut di bawa, bahkan ada mahasiswa yang baru datang ke kampus untuk kuliah juga di bawa.

07.25

Satu persatu mobil tahanan mulai berangkat pergi membawa semua mahasiswa UNAS yang ada di dalam kampus

07. 56

Situasi kampus mulai kondusif

Ada 5 orang tentara menggunakan topi rimba berjaga di depan kampus