Oleh : Toeti Adhitama, Ketua Dewan Redaksi Media Group

AL GORE memang luar biasa. Mantan wakil presiden di era Clinton itu (1993-2001), dengan semangat yang tak kunjung reda berkampanye mencegah pemanasan global (global warming) yang mengancam makhluk bumi. Namun, respons para pengambil keputusan di negerinya waktu itu agaknya tidak sebanding.

Hal itu tersirat dalam narasi film dokumenter The Inconvenient Truth, kenyataan yang tidak diinginkan. Pada waktu pembuatan film itu, Amerika memang belum menandatangani Protokol Kyoto tahun 1997. Padahal dengan protokol tersebut, dunia berusaha menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca pada tingkat yang tidak membahayakan iklim bumi. Secara ilmiah, dalam film itu Al Gore mengupas perilaku bencana yang mengarah pada pemusnahan kehidupan di bumi. Film dokumenter pemenang Academy Award 2007, dan yang memantapkan Al Gore sebagai pemenang Hadiah Nobel untuk Perdamaian karena kampanyenya soal global warming, mampu meyakinkan penonton betapa serius problem tersebut. Pemandangan di daerah kutub, ketika bukit-bukit salju berguguran dan padang-padang es mulai retak, membuktikan betapa gawatnya perusakan ekosistem bumi. Salju yang menyelimuti daratan di banyak tempat mulai mencair, hanya meninggalkan petak-petak yang masih tertutup es. Sesuai perjalanan waktu, daerah yang masih tertutup salju itu pun makin menyempit. Dapat dibayangkan apa akibat global warming

terhadap makhluk daerah kutub. Misalnya beruang kutub, mereka harus berenang belasan atau puluhan kilometer untuk menemukan padang es yang belum rapuh, yang mendukung kehidupan mereka. Namun, mungkin akhirnya mereka terpaksa mati lemas karena tidak menemukannya.

Tentang nasib binatang-binatang yang menjadi korban perubahan iklim juga diungkap dalam film dokumenter baru Earth, Bumi. Dengan cara lain, film ini pun mampu menyadarkan penonton tentang perusakan ekosistem planet bumi akibat ulah manusia. Juga tentang kekejaman alam bebas terhadap kawanan binatang penghuninya yang terpaksa mengungsi dari tempat semula karena perubahan iklim. Film yang disutradarai Alastair Fothergill, Mark Linfield, yang pembuatannya memakan waktu lima tahun dan yang paling mahal sejauh ini, mengisahkan bagaimana tiga hewan–seekor beruang kutub, seekor gajah, dan seekor ikan paus bungkuk–berjuang mengatasi kekejaman alam bebas demi kelangsungan hidup mereka dan anak-anak mereka.

Ada keindahan, ada kekejaman. Itulah cermin kehidupan. Keganasannya dilatarbelakangi keindahan bumi. Penonton diajak bertualang ke seluruh penjuru bumi, di lebih dari 200 lokasi, sambil menyaksikan pengungsian kawanan binatang-binatang dan keganasan yang mereka temui di jalan. Mereka saling melindungi, dan saling memangsa. Penonton seakan terbang melewati hutan-hutan, padang-padang es di Kutub Utara, melewati puncak Gunung Everest yang kelihatan berselimut salju. Namun, selimut itu berangsur meleleh di sana-sini. Film menakjubkan yang banyak mendapat pujian ini–<i>Visually dazzling (The Guardian), Ravishing (Variety), Stunning (EyeForFilm. co.uk)

–menyadarkan penonton betapa indahnya kehidupan di planet bumi.

Kampanye antipemanasan global mulai bergerak sejak KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brasil, pada 1992. Indonesia pun pada Desember 2007 mengadakan Bali Road Map, pertemuan internasional yang merumuskan usaha mengatasi krisis lingkungan hidup. “Membangun kesadaran masyarakat tentang bencana ini sudah menjadi tuntutan bagi yang peduli,” demikian tersirat dalam ucapan Dr Ir Pandji Hadinoto, Ketua Presidium Komunikasi Indonesia Hijau, ketika dengan rombongannya berkunjung ke <i>Media Indonesia

pekan lalu. Dalam catatannya dia mengutip pendapat beberapa ahli: Peneliti iklim Dr HJ Zwally dari Badan Aeronautika dan Antariksa Amerika (NASA) memprediksi, hampir semua es akan lenyap dari Kutub Utara pada akhir musim panas 2012. Es yang mencair terlalu cepat mengakibatkan perubahan iklim yang terlalu cepat pula. Ahli kelautan Australia, Dr Steve Rintoul, memperkirakan bahwa rasio kecepatan mencairnya es akan memaksa pindah 100 juta penduduk pantai untuk menghindari naiknya permukaan laut. Namun, Dr James Hansen dari NASA masih memberi harapan, “Kita sudah sampai ke titik ujung, tetapi belum sampai ke titik tanpa harapan. Kita masih bisa berbalik, tetapi harus lewat arah yang cepat.” Situasi mencemaskan yang tak akan hilang tanpa kesadaran masyarakat dunia.