PARA pengusaha di Sumbar diimbau untuk menaikkan uang makan dan transportasi bagi karyawan sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, sesuai instruksi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Soeparno.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumbar Zul Evi Astar, tadi malam. Menurutnya, para buruh/ karyawan sangat merasakan dampak dari kenaikan harga BBM rata-rata sebesar 28,7 persen yang berlaku sejak Sabtu (24/5).

“Imbasnya bagi karyawan, tidak hanya terhadap naiknya biaya transportasi atau harga beli BBM, tapi juga kenaikan harga kebutuhan pokok sehari-hari,” ujar mantan Waka Dispenda Sumbar itu.

Sedangkan untuk kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) kemungkinan tidak bisa serta merta dilakukan, karena menurutnya, UMP tidak bisa disesuaikan di tengah jalan atau hanya bisa diubah pada akhir tahun. “Jadi, untuk meringankan beban karyawan, pengusaha mesti menyesuaikan dulu uang makan dan transportasi. Sedangkan untuk penyesuaian UMP, kita akan bertemu perwakilan pengusaha dan serikat pekerja dalam waktu dekat,” kata Zul Evi Astar.

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto menyatakan pihaknya belum merencanakan kenaikan upah, karena ditentukan sekali setahun. “Yang naik hanya uang makan dan transportasi yang dibayar harian. Kalau karyawan tidak masuk, juga tidak dapat itu. Sedangkan upah tidak bisa dinaikkan,” ujarnya.

Dia menyatakan, dunia usaha juga terimbas oleh kenaikan harga BBM seiring melemahnya daya beli masyarakat. “Akan ada sedikit permintaan yang bisa menjalar ke penurunan produksi,” terangnya. Saat kapasitas produksi menurun itulah, sambung dia, opsi PHK bisa saja ditempuh perusahaan.

Namun, sebelum benar-benar memilih langkah PHK, para pengusaha sebisa mungkin menekan ongkos produksi. “Mungkin pengusaha lebih memilih merumahkan para karyawan secara sementara,” tuturnya. Langkah itu ditempuh untuk menekan ongkos produksi. “Nanti kalau keadaan mulai stabil, mungkin beberapa bulan lagi, kan bisa bekerja kembali,” katanya. Opsi tersebut dinilai Djimanto juga cukup hemat. “Kalau rekrutmen karyawan lagi, kan juga perlu biaya,” ujarnya. (esg)