Buku Pengkhianatan Jurnalis, Sisi Gelap Jurnalisme Kita

Sisi kotor wartawan biasanya dikenal hanya satu, permisif terhadap urusan amplop atau pemberian dari narasumber. Tapi, tahukah Anda, ada 111 praktik kotor yang kerap dilakukan jurnalis dalam menjalankan profesinya. Uniknya, jurnalis di Indonesia, termasuk di Makassar dan Sulsel, sebagian besar tak pusing, bahkan untuk urusan yang jelas-jelas kotor tadi, menerima amplop.

Seorang jurnalis Makassar, Upi Asmaradhana, menuangkan kebobrokan jurnalis itu dalam bukunya yang berjudul Pengkhianatan Jurnalis: Sisi Gelap Jurnalisme Kita. Buku yang cukup menohok kalangan jurnalis ini diluncurkan Sabtu (10/5) hari ini. Upi, sapaan akrab kontributor Metro TV Biro Makassar ini, berusaha jujur pada profesinya sendiri.

Manusia modern sepakat bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi. Para pekerja pers atau jurnalis atau wartawan dengan demikian adalah pejuang demokrasi. Tak sedikit memang orang yang mengagumi profesi wartawan sebagai profesi yang mulia. Tapi, dengan gamblang, Upi menunjukkan bahwa tidak seluruh wartawan adalah “malaikat” pengusung idealisme.

“Terlalu banyak kegetiran yang telah dilakukan para wartawan Indonesia. Kita pun harus meminta maaf kepada semua pihak atas fakta kotor yang selama ini berusaha kita pungkiri,” demikian penggalan tulisan Upi dalam buku tersebut.

Upi menulis ada 111 dosa wartawan. Mulai dari wartawan amplop, menjadi calo liputan, tukang todong narasumber, wartawan juru kampanye, sampai wartawan tukang kloning berita.

Bahkan menurut Upi, ada satu jenis “gratifikasi” kepada wartawan berupa ongkos naik haji.
Di mata Upi, semua itu merupakan pengkhianatan jurnalis. Profesionalisme dan idealisme wartawan selalu tampak dalam karya-karyanya.

“Jika konsep dasar berjurnalis ini dipegang teguh, wartawan akan mengerti untuk apa ia bekerja,” kata Upi.
Apa yang melatarbelakangi wartawan bersikap mengkhianati profesinya sendiri? Jika diklasifikasi, pengkhianatan itu lebih dominan didorong faktor ekonomi. Upi sampai pada kesimpulan, kendati bukan satu-satunya, bahwa kebanyakan wartawan di Indonesia tidak sejahtera.

Fenomena media massa berorientasi pasar menjadi juga ia gugat. Bahkan ada beberapa media massa yang sengaja atau tidak sengaja menjerumuskan wartawannya pada sikap tak profesional.
Wartawan dimobilisasi sebagai alat promosi. Tulisannya semata-mata adalah iklan. Sehingga unsur objektifitas terabaikan.

Direktur Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Stanley, juga sepakat dengan pemikiran Upi.
Namun sebagai pejuang demokrasi, kebanyakan wartawan mengalami hal yang sangat pahit.
Apa itu? Kata Stanley, wartawan tak bisa memperjuangkan nasibnya sendiri ketika berhadapan dengan perusahaannya.

Buku setebal 100 halaman ini diterbitkan oleh ISAI. Tulisannya sangat gamblang.
Sayangnya, Upi tidak memaparkan secara terbuka kasus demi kasus. Ia hanya melengkapi tulisannya dengan hasil wawancara beberapa wartawan yang namanya disamarkan.

Pada beberapa bagian, tulisan Upi ini bahkan terkesan text book atau seperti pelajaran sekolah.
Gagasannya sebenarnya juga terhitung tidak lagi baru. Namun demikian, buku ini cukup bisa membuka jendela, terutama bagi warga umum untuk mengetahui hitam putih dunia jurnalis.
dikutip dari : http://www.tribun-timur.com