Buku-buku yang diadaptasi dari cerita-cerita di blog atawa buku blog alias blook kian marak. Beberapa di antaranya meledak di pasar.

Empat gadis yang baru saja mengantar teman satu kosnya ke rumah sakit terheran-heran ketika menyadari mereka jadi pusat perhatian. Rupanya yang menjadi perhatian orang-orang di sekelilingya adalah penampilan mereka. Satu dari keempat gadis itu hanya memakai daster belel dan mukanya penuh obat jerawat. Ada juga yang memakai sandal berbeda warna antara kaki kanan dan kirinya. Akhirnya tawa mereka pun meledak karena sadar akan kekonyolan itu.
Penggalan kisah semasa kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta itu dituangkan Dewi Rieka Kustiantari di blognya. Kisah-kisah di rumah kos Dedew–begitu sapaan akrab perempuan 28 tahun itu–kemudian sempat dimuat di majalah. Tapi Dedew belum puas. Ia ingin kumpulan cerita di blognya itu diterbitkan dalam bentuk buku. Ia lantas mengirimkan cerita setebal 50 halaman itu ke banyak penerbit. Ditunggu-tunggu, belum satu pun yang tertarik.

Barulah pada awal tahun ini Penerbit Gradien Mediatama, Yogyakarta, menyatakan ketertarikannya pada tulisan ibu satu anak itu. Dedew, yang waktu kecil kerap mengirim anekdot ke majalah Bobo itu, diminta menambahkan ceritanya agar bukunya bisa lebih tebal. Penerbit juga berpesan supaya Dedew tak mengubah gaya tulisannya di blognya, yang lugas, penuh canda, dan jauh dari gaya bahasa formal.

Proses penambahan cerita itu dijalani lewat diskusi hampir setiap hari dengan penerbit melalui chatting. “Prosesnya itu seperti konsultasi membuat skripsi,” kata Dedew. Akhirnya Dedew berhasil menambahkan ceritanya menjadi 191 halaman dan diterbitkan menjadi buku berjudul Anak Kos Dodol, Catatan Mahasiswa Gokil von Djokja.

Dedew yang sudah sangat senang buku kumpulan cerita di blognya bisa terbit semakin bungah ketika ia tahu bukunya ternyata laris. Dalam dua bulan, bukunya itu sudah masuk cetakan ketiga.

Buku yang isinya diadaptasi dari blog atawa buku blog, seperti bukunya Dedew, memang tengah mewabah di Indonesia belakangan ini. Di dunia internasional, buku jenis ini dikenal dengan istilah blook, yang merupakan gabungan kata blog dan book.

Menurut Donny B.U., blogger sekaligus aktivis Information and Communication Technology Watch Indonesia, fenomena itu mulai merebak sekitar dua tahun lalu. Di luar negeri, seperti Inggris, fenomena itu sudah berlangsung lama. Malahan sudah ada penghargaan dari Guardian untuk blogger yang menulis blook.

Fenomena itu, tutur Donny, dipicu oleh banyaknya novel chiklit yang menjamur akhir-akhir ini. Di antara novel-novel chiklit itu ditulis oleh beberapa blogger, yang rata-rata masih sangat belia. Sebut saja Faiz, yang memiliki blog http://www.masfaiz. multiply. com. Di blognya ia menulis, dan akhirnya membuahkan chiklit, Permen-permen Cinta Untukmu.

Donny menyatakan, seorang blogger yang berkisah dalam blognya mempunyai pembaca loyal, yang mengikuti ceritanya hingga tamat. Saat ini, sejumlah penerbit memang getol memburu naskah cerita para blogger yang berkisah tentang remaja. Biasanya para penerbit mencari ke blog-blog yang memang bertebaran di jagat maya. “Blog kini telah menjadi semacam tempat penyimpanan naskah.”

Kondisi itu juga memicu sejumlah blogger aktif mengirimkan naskah cerita di blognya ke penerbit. Alhasil, situasi itu kemudian kian membuat maraknya kehadiran blook di rak-rak toko buku di Tanah Air.

Yang jelas, Donny menambahkan, menjamurnya blook bukan berarti mengembalikan dunia tulis-menulis ke kertas. “Dua-duanya akan tetap berjalan,” katanya.

Bila ditelusuri, di Indonesia blook mulai diperhitungkan setelah terbitnya Kambing Jantan pada April 2005. Blook karya Raditya Dika itu meledak di pasar sekitar enam bulan kemudian. Hingga kini, buku yang memuat kisah-kisah jenaka dalam kehidupan penulisnya itu sudah naik cetak 20 kali atau setara dengan 100 ribu eksemplar.

Menurut Radit, ide menerbitkan kumpulan tulisan dari blognya muncul ketika ia kuliah di Australia. Saat itu, ia menemukan blook karya Salam Pax yang mengisahkan seputar invasi pasukan Amerika Serikat ke Irak di perpustakaan kampusnya. Radit berpikir, kalau tulisan blog Salam Pax itu bisa diterbitkan, maka tulisan-tulisan di blognya juga punya peluang yang sama.

Meski tak terlalu yakin, Radit memberanikan diri mencetak semua tulisan di blognya yang mencapai 400 halaman. Gepokan naskah itu ia bawa ke penerbit Gagas Media, Jakarta. “Awalnya ditolak karena naskah buku kambing jantan dikiranya buku soal ternak,” kata Radit. “Pas saya bilang ini catatan harian dari blog, mereka malah tanya blog itu apa.”

Untungnya Radit sudah menyiapkan bahan presentasi dengan matang, sehingga ia bisa menjelaskan konsep bukunya dengan mantap. Hari itu juga ia berhasil meyakinkan Gagas Media untuk menerbitkan bukunya. Uniknya, pihak Gagas Media meminta agar tulisan di blog yang dipindahkan ke buku tak perlu diedit, dibiarkan apa adanya. Bahkan kesalahan pengetikan pun dibiarkan. Menurut Radit, pihak penerbit bertujuan agar isi buku lebih orisinal.

Direktur Penerbit Gradien Mediatama, Ang Tek Khun, mengakui buku Radit itu memang pionir mewabahnya blook di Tanah Air. Dan itu memacu Gradien, yang awalnya hanya mengamati blog untuk mencari penulis potensial, akhirnya memutuskan serius menggarap blook.

Sejak 2006, sudah ada delapan blook yang diterbitkan Gradien. Boleh dibilang, saat ini penerbit itulah yang paling rajin menerbitkan blook. Dan rata-rata blook yang dilepas ke pasar bisa laku lebih dari 6.000 eksemplar.

Cukup menarik, memang. Menurut Khun, buku adaptasi dari blog ini punya daya tarik dari gaya bertuturnya yang lugas dan mirip dengan catatan harian. Karena itu, proses penyuntingan naskah diupayakan seminim mungkin agar gaya bercerita ala online diary itu tak hilang.

Awalnya, Khun memilih metode penulisan copy-paste. Artinya, naskah yang ada di buku benar-benar sama dengan yang pernah dimuat di blog. Tapi saat ini Khun membimbing penulisnya mencari kekhasan dan benang merah isi blog mereka, lalu naskah yang ada ditulis ulang sesuai dengan benang merah tersebut.

Khun mengakui kalau blook acap kali dicibir karena membicarakan hal yang remeh-temeh. “Sebagian orang masih meremehkan kualitas blogger dan tulisannya,” katanya. Tapi Khun percaya, sebenarnya kemampuan menulis para blogger lumayan baik. Terbukti buku mereka mendapat sambutan.

Karena itu, Khun optimistis masa depan blook akan semakin cerah seiring dengan bertambahnya blogger. “Belum ada media serevolusioner blog yang bisa memprovokasi kalangan muda sampai tua untuk menulis,” ujarnya.

Donny B.U. mengingatkan masalah copyright atau hak cipta yang akan muncul di tengah merebaknya blook. Penerbit umumnya tak mau versi cetak itu dimasukkan juga ke blog pribadi pengarangnya. “Inilah yang akan menjadi perdebatan kemudian, meski hingga sekarang belum ada kasus seperti itu,” katanya. “Makanya, tergantung si penerbit, niatnya mau minterin atau bisnis.” OKTAMANDJAYA WIGUNA, YOPHIANDI (Koran Tempo, 25 Mei 2008)