BUNDO Kanduang & Alam Minangkabau, itulah tema yang diusung oleh duet pelukis perempuan asal Ranah Minang, Sumatera Barat, yaitu Evelyn Dianita dan Isna Fitri B. Koto. Dua pelukis perempuan ini cukup dikenal oleh pecinta lukisan Naturalis Ranah Minang.

Hasil karyanya yang kental dengan kebudayaan sehari-hari masyarakat Minangkabau serta pesona ranah minang yang mengagumkan menjadi objek pada pameran yang diresmikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan RI di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Pameran ini digelar pada tanggal 23 Mei-1 Juni 2008 yang lalu.

Pameran ini digelar untuk memberi kesempatan pada masyarakat Ibukota agar dapat lebih mengenal kebudayaan daerah dan objek wisata yang ada di Ranah Minang melalui goresan tangan di atas kanvas. Alam Minangkabau menjadi objek lukisan karena masih banyaknya ranah dan adat istiadat sehari-hari yang masih asli dan jauh dari kontaminasi kebudayaan modern tetapi tetap memiliki tingkat keindahan yang tinggi dan layak untuk ditampilkan.

Hotel bintang lima menjadi tempat diselenggarakannya pameran lukisan merupakan serangkaian kegiatan untuk mengenalkan Sumatera Barat kepada wisatawan asing yang menginap di hotel, sehingga Sumater Barat dapat menjadi daya tarik untuk destinasi kunjungan wisatanya.

Beberapa lukisan yang dipamerkan melukiskan tentang sosok ibu kandung yang merupakan panutan sang tokoh, serta tentang kentalnya budaya Minangkabau akan suatu prosesi perkawinan. Di beberapa lukisan nampak seorang pengantin perempuan sedang menjalani ritual pernikahan menurut adat Minang dengan kostum pakaian adat Minangkabau.

Perpaduan lukisan antara kekentalan adat istiadat Minang serta keindahan tekstur alamnya yang khas, menjadikan pameran kali ini memiliki corak yang patut untuk mendapatkan pujian. Sesuatu yang menarik adalah, bagaimana sang pelukis menampilkan sosok ibu yang sangat berperan besar dalam rumah tangga dan keturunan berdasarkan garis keturunan ibu dalam budaya Minangkabau. Dominasi wanita di ranah dan rumah gadang menjadikan Sumatera Barat nagari yang kaya akan keunikan budayanya.

Harga lukisan yang dipamerkan bervariasi, yaitu mulai dari harga Rp 6 Juta hingga Rp 20 Juta. Hal yang menentukan mahalnya harga sebuah lukisan adalah tingkatan imajinasi dari sang pelukis. Melukis berdasarkan imajinasi lebih sulit daripada melukis dengan objek yang sudah berbentuk visual seperti alam dan rumah gadang.

Melukis imajinasi lebih sulit karena menuntut kombinasi kreativitas dan kepiawaian goresan tangan sang pelukis. Beberapa objek lukisan yang berbentuk imajinasi adalah lukisan tentang sosok bunda kanduang serta prosesi perkawinan pembelai wanita dengan adat budaya Minangkabau. (Hilda Perbatasari)

Sumber: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20080603195644